Bukan Mitos, Ternyata Gunung Kembar Itu Ada

 



“Gunung Kembar” mungkin saat kita membaca  yang pertama kali muncul dalam benak kita adalah bayangan sosok wanita dengan payudara yang tidak terbungkus, menantang dan memancarkan pesona. Namun ketika angan-angan kita tentang berahi mulai mengendap maka pikiran akan mencari jawaban apakah ada gunung kembar?

Ternyata memang ada gunung kembar yang sebenarnya yaitu gunung Sumbing dan gunung Sindoro yang merupakan dua Gunung yang letaknya berdekatan, serta memiliki bentuk dan tinggi yang hampir sama.Tinggi Gunung Sumbing sekitar 3.340 m (dpl), sedikit lebih tinggi daripada Sindoro (3.155 m dpl).

Jika dipetakan, Sumbing berada disebelah barat daya kota Temanggung dan sebelah Timur kota Wonosobo. Sedangkan Sindoro disebelah barat laut Temanggung danTimur laut Wonosobo. Masyarakat di kedua daerah itu menyebut Sindoro–Sumbing sebagai Gunung kembar.

Apakah ada misteri atau hubungan antara payudara wanita dengan gunung kembar yang sebenarnya?

Berangkat dari asumsi manusia kebanyakan, secara universal manusia menyebut tanah sebagai “ibu pertiwi” – yang sering ditemui tidak hanya dalam konsep kenegaraan. Tanah sebagai ibu, yang dalam mitologi Jawa dijaga oleh seorang Dewi bernama Dewi Sri.

Jika bumi adalah seorang perempuan, maka dalam konsep ciptaan Tuhan yang berpasang-pasangan, maka angkasa raya adalah sosok yang menjadi lelakinya. Lelaki yang memeluk dan menghujani bumi dengan benih-benih kehidupan sampai terjadi pembuahan (baca: kehidupan). Bukankah Tuhan Semesta Alam menurunkan kehidupan bersamaan dengan hujan?

Bumi sebagai tanah, setelah ditemukan bahwa di Alas Purwa terdapat Gua Kelelawar sebagai simbolisme mengenai “rahim”, maka kita bisa mengasumsikan kalau tanah Jawa ini sebagai tubuh perempuan yang telanjang.

Andrew Beatty (2001) dalam bukunya “Variasi Agama Di Jawa” mengemukakan mengenai keberadaan kelamin di sudut paling timur pulau Jawa. Saya mengasumsikan kalau perempuan ini terlentang ke barat sehingga saya menempati pertengahan.

Pengandaian kali ini mencapai wilayah pegunungan Wonosobo, dimana sepasang payudara terbuka dapat kita nikmati. Payudara itu bernama Sindoro dan Sumbing. Dua gunung yang kelihatan kembar namun memiliki struktur yang berbeda. Berdasarkan pandangan mata saya, menyangkut soal bentuk. Bukankah payudara perempuan (dalam arti sebenarnya) disebut sebagai gunung kembar namun memiliki ukuran berbeda antara kiri dan kanan.

Demikian hubungan antara gunung kembar yang sebenarnya dengan payudara, salah satu bagian tubuh perempuan yang mempesona.

Mengeksploitasi perempuan dengan tujuan apa pun, sama saja mengeksploitasi diri sendiri. Esensinya terletak dalam arus utama dari proses pembentukan manusia, sehingga perempuanlah yang sebenarnya superior, bukan lelaki. Sebab, perempuan ada di mana-mana, termaktub dalam keseluruhan struktur kehidupan. Bukankah manusia dari tanah? Dan tanah itu adalah perempuan.

Jika ada filosofi Jawa  mengatakan “Ibu Pertiwi Bapa Angkasa”, dimana secara fisik bumi disebut sebagai ibu pertiwi dan langit atau angkasa raya disebut sebagai Bapa atau Bapak. Manusia adalah mikro kosmos dan Alam semesta adalah makro kosmos, apa yang ada di alam semesta juga ada dalam diri manusia demikian sebaliknya.

Jika wanita sebagai mikrokosmos memiliki “gunung kembar” maka bumi, khususnya pulau Jawa yang mewakili makro kosmos juga memiliki “gunung kembar” yaitu gunung Sumbing-Sindoro.

Sumber :

Andrew Beatty, "Variasi Agama Di Jawa"
M.D. Atmaja

Post a Comment

Previous Post Next Post